Kamis, 05 Maret 2015

"Om, mau ga jadi teman aku?"

Aku muak. Aku akuntan bergaji tinggi tapi tak pernah tahu harus aku habiskan kemana pundi-pundi hartaku itu. Pulang ku terlalu larut. Paginya? jangan tanya. Mungkin aku bangun lebih pagi dibandingkan dengan ayam jago. Aku hampir setiap hari berhasil menggagalkan tugas ayam jago yang diamanatkan Tuhan untuk berkokok membangunkan manusia-manusia malas di pagi hari. Sempat terbesit juga dalam pikiran ku untuk mengambil pekerjaan ayam jago ini setiap pagi. Toh, aku bisa selalu bangun lebih pagi. Aku sanggup berkokok setiap hari. Membangunkan manusia-manusia malas untuk berangkat mencari isi perut. Setelah semuanya bangun, aku tinggal tidur saja sampai besok paginya lagi. Hanya sesekali mengais tanah mencari cacing jika aku lapar. Tapi takdirnya, akulah manusia-manusia malas itu.
Dasiku selalu terpasang rapi. Sesekali dasi ini kerasukan setan karena acapkali mencekik leher kurusku. Tetangga-tetangga ku menaruh hormat padaku. Entah hormat atau sebuah jilatan. Mungkin karena pakaianku yang rapi ini. Mereka pikir aku orang kaya. Aku memang kaya. Tapi sebatang kara. Kalau saja mereka tahu isi apartemenku, mungkin mereka paham tingkat depresiku. Depresi karena sebatang kara. Aku kaya, tapi aku tak punya teman.
Aku pernah jatuh cinta, tapi cuma sementara. Aku jatuh cinta pada wanita yang salah. Wanita dengan gairah seks yang cukup tinggi. Marah hanya karena tak bisa orgasme bersama. Hanya menambah depresi saja. Aku juga pernah punya sahabat. Tapi percuma saja punya sahabat seperti dia. Sahabatku yang satu dan satu-satunya ini ternyata mampu bertahan untuk orgasme di waktu yang bersamaan dengan orgasmenya pacarku. Enyah sajalah mereka berdua. Dan selebihnya, hanya rekan kantor yang tak lebih manusia dengan lidah yang sangat panjang yang terus menjilat apapun yang akan membuat mereka naik pangkat. Termasuk menjilat kemaluan bos mereka sendiri. Menjijikkan. Mungkin harusnya aku berteman dengan iblis saja.
Aku cukup ahli di bidang pekerjaanku. Semua pekerjaan dapat aku selesaikan dengan sangat baik. Cepat pula. Tapi aku tak pintar menjilat. Bukan tak pintar sih, tak berminat lebih tepatnya. Rekan-rekanku lebih jago dalam urusan menjilat. Hasilnya, bos lebih percaya memberiku pekerjaan yang sangat banyak, tetapi lebih percaya mengajak rekan seberang kubikelku untuk diajak makan siang bersama. Mungkin selepas itu mereka bersenggama. Tapi penderitaanku tak berlangsung lama. Sekitar 10 tahun. Sampai sore seminggu yang lalu, ketika aku pulang kantor lebih cepat, aku bertemu dengan seorang gadis yang lucu.
Aku keluar kantor dengan muka bahagia, seperti meninggalkan neraka dan menuju surga. Padahal aku tau besok aku akan masuk neraka lagi. Dasi yang ku longgarkan dari kerah kemejaku menari ditiup angin sore seakan dia paham betul dengan kondisi majikannya. Rasa-rasanya ada karpet merah yang dibentangkan di trotoar sepanjang jalan. Sampai aku melihat ada gadis kecil berumur di kisaran 7-10 tahun yang terduduk menangis, membasahi karpet merahku yang klise.
“Kenapa kau, dik?”
Gadis itu hanya melongo melihat tampang preman bahagia ini. Kemudian menangis. Ingusnya meleleh dari hidung peseknya. Mungkin gadis kecil ini sudah menangis sekitar 1 jam lebih. Aku bisa liat itu dari wajah putihnya yang sudah mulai memerah. Mungkin dia menangis sejadi-jadinya. Dengan kondisi hidupku, tak perlu aku bertanya mengapa orang-orang di jalanan tak ada yang peduli dengan gadis kecil ini. Tanpa pikir panjang, ku jadikan saja dia teman.
“nama kamu siapa, adik kecil?” Tanyaku lembut.
“Rara”,  gadis itu menjawab singkat. Masih susah dia berbicara karena tersedu.
“orang tuamu dimana? Kenapa kamu menangis?”
“Rara diusilin anak jalanan. Orang tua rara belum pulang kantor. Tapi rara tau jalan pulang kok, Om”
Gadis itu cukup lugu. Gampang sekali aku terenyuh. Ku bawa saja dia, pikirku dalam hati. Setelah ku bujuk, akhirnya dia mau ikut denganku. Mungkin pikir gadis itu, lebih baik hidup dengan penculik, dibandingkan menangis sendirian di jalan. Paling tidak, penculik tetap memberinya makan. Ku bawa dia ke warung es krim langgananku. Es krim terenak di kota itu. Tempat aku menyatakan cinta pada si wanita gila seks dulu.
Putus asaku dalam kondisi hidupku mungkin jadi faktor utama kenapa aku begitu cepat jatuh cinta pada gadis kecil ini. Tapi ini cinta ke seorang adik. Aku bukan pengidap pedophilia. Nalarku bekerja pendek dengan berpikir bahwa gadis kecil tak mungkin menkhianati pertemanan. Dia tak berambisi busuk seperti orang-orang dewasa pada umumnya. Hasilnya, aku sangat menikmati sore itu. Sore yang begitu indah, dimana aku bisa menggandeng tangan seorang gadis kecil lugu yang tak berhenti membuat aku tertawa lepas karena keluguannya. Tak ikhlas rasanya ketika ku antar dia sampai di depan blok rumahnya. Tapi tak apalah, kami sudah berjanji untuk bertemu setiap hari, menuntaskan es krim setiap sorenya.
Dan begitulah, sore-sore ku dilewati dengan terlalu bahagia. Makan es krim, dongeng, main ke pantai melihat senja, ku belikan dia boneka, ditanyanya hal-hal polos, ku bawa dia naik komedi putar, dipegangnya tanganku karena dia ketakutan, lalu ku gendong dia di bahuku sampai ke depan blok rumahnya. Itu terasa begitu bahagia, begitu cepat. Aku pun sampai tak mengerti dengan dunia ini. Mengapa ketika bahagia datang, semuanya terasa begitu singkat.
Sampai sore kemarin dia akhirnya berbicara tidak selayaknya gadis kecil yang berumur 7-10 tahun. Kami duduk di kursi taman yang menghadap ke jalan raya. Walaupun pemandangannya hanya melihat mobil-mobil yang melaju kencang, tapi kursi itu cukup nyaman. Ada pohon rindang melindunginya. Ditengah kedamaian kursi taman itu dia menangis, akhirnya mengadu kalau dia tidak punya teman. Dia sedih karena orangtuanya pun selalu tak ada waktu untuknya. Aku cukup paham dengan keadaan itu jika dialami oleh seorang gadis kecil. Aku saja yang sudah dewasa masih bisa merasa depresi. Itu kedua kalinya aku lihat dia menangis tersedu. Sekilas hanya seperti terisak saja. Tapi ada kesedihan yang cukup mendalam disana. Ku rangkul dia dalam pelukanku. Hanya bermaksud menenangkan. Sampai akhirnya dia dengan tersedu berkata,
“Om, aku mau om jadi teman aku selamanya. Teman yang sebenarnya teman. Om mau kan jadi teman aku?”
Aku melihat keputusasaan yang sangat dalam di nada suaranya. Anggukanku pun bergerak begitu saja, tanda setujuku atas permintaannya. Tapi dia malah mengajakku bermain.
Dia langsung keluar memaksa dari rangkulanku, tersenyum bahagia, sambil terus mundur hingga mendekati jalan raya. Mobil melaju sangat kencang disana. Tak ada tolerir. Instingku bekerja. Aku panik. Aku segera berlari berusaha menangkap gadis kecil itu. Menyelamatkannya. Kejadiannya begitu cepat sampai aku kira itu hanya mimpi.
Suara knalpot mobil sport yang melaju cepat dan berisik itu menyadarkan lamunanku. Aku termenung kebingungan sambil menggenggam tangan gadis kecil yang masih duduk di sampingku. Dia bingung melihatku. Aku melihat ke belakang untuk memastikan pohon rindang yang memberi kedamaian dalam kursi taman itu. Terlalu jauh aku terbawa lamunan. Gadis kecilku itu pun ikut heran.
Senja sudah datang. Dalam keheranan kami berdua, gadis kecil itu menarik tanganku pergi. Kami pergi meninggalkan kerumunan orang yang aku tak sempat melihatnya. Padahal orang-orang sedang mengerumui mayatku.
“terima kasih ya Om, sudah benar-benar menjadi temanku sekarang. Aku pulang dulu ya Om, besok kita main lagi”
Aku terdiam. Tak pernah sadar kalau sebenarnya tak ada manusia normal yang bisa melihat gadis kecil itu dari sejak awal. Sama seperti tak ada manusia normal yang bisa melihatku sekarang. Aku bingung harus pulang kemana.


Jangan tanya aku dimana hari ini. Mungkin dibelakangmu.

*** 

1 komentar:

  1. welcome back ^^
    lama tak bersua di tulisan maya.. tiba2 kau hadir merubah segalanya menjadi lebih indah :D
    tulis terus ruuuu (y)

    BalasHapus

Budayakan Komen yaaa :D