Selasa, 11 Agustus 2015

“Karena Nila Setitik, Rusak Susu Di Sebelahnya”



 
Sekitar lebih dari 10 tahun yang lalu, masa-masa dimana saya sangat mencintai yang namanya peribahasa. Saya sampai punya dua buku kumpulan peribahasa. Yang satunya "Kumpulan 500 Peribahasa Lengkap" dan yang satunya lagi "1000 Peribahasa Indonesia Lengkap". Setelah saya teliti, kedua buku ini tidak memuat peribahasa sesuai dengan jumlah yang tertera di judulnya. Malah banyak peribahasa yang double, diulang sampai 3 kali di halaman-halaman berikutnya. Bisa saja menipu anak SD.
Salah satu peribahasa yang cukup terkenal ialah "karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Saya ndak ada niat menggeneralisir, tapi ini lumayan mencerminkan mental manusia. Terserah dimana manusia itu berada. Lihat saja sekitarmu. Kalau saya salah, anggap saja saya sedang skeptis. Hehehe.
Mungkin kita diajarkan sejak kecil tentang peribahasa ini, atau mungkin pada saat pelajaran Bahasa Indonesia sewaktu SD dulu, kita didoktrin untuk mengamalkan setiap nilai peribahasa yang diajarkan, termasuk peribahasa ini. Bagi saya, peribahasa ini menebarkan kebencian--sewaktu menulis ini, raut muka saya datar-datar saja kok. Bagaimana mungkin kita begitu membenci seseorang hanya karena ada setitik kesalahan --atau bisa jadi kesalahan subjektif menurut pandangan hasil pemikiran dengkul pribadi. Mengapa kita begitu mengingat satu kesalahan yang dibuat dibandingkan dengan beberapa kebaikan yang telah diciptakan? Mengapa kita begitu mengingat arogansi Cristiano Ronaldo dibandingkan dengan aliran darah yang cukup rutin didonorkannya sampai doi ndak mau men-tatto tubuhnya sama sekali? Mengapa kita lebih senang dengan gosip artis terkena narkoba dibandingkan artis yang melahirkan seorang anak? Kalau untuk yang ini, saya ndak dua-duanya sih. Hehehe.
Manusia kan bukan susu, toh? Kalau susu saya terkena nila setitik, ya pasti ndak saya minum. Tapi kalau manusia bersalah, ingatkan dan maafkan. Buang racunnya, selamatkan manusianya. Coba lihat sisi baiknya, pasti ada. Kamu saja yang tidak tahu. Coba bayangkan kalau Tuhan mengamalkan nilai peribahasa ini, habislah kita semua sebagai hamba-Nya.
Zaman sekarang peribahasa ini sudah mulai bertranformasi. Menjadi seperti yang di judul. "Karena nila setitik, rusak susu disebelahnya". Dan kalau perlu saya tambahkan "Karena nila setitik yang sengaja dilemparkan, rusaklah seluruh susu di sebelah kanan maupun kiri". Baru-baru ini keluar fatwa MUI tentang BPJS yang haram. Eh ndak lama kemudian mulai deh tersebar berita ada anggota MUI yang jadi aktor utama--dan mungkin akan meraih piala citra-- untuk adegan threesome di puncak. Saya belum nonton sih. Nanti deh saya download. Lain lagi tentang FPI, nila anarkisnya selalu merusak susu jiwa sosial mereka. Kalau Pak Ahok jangan disinggung lagi. Wes biyasa. Nila amarah dan tutur katanya selalu berusaha dilempar untuk menutupi susu integritas dan kejujurannnya. Sama seperti saat masa-masa pemilu presiden dulu. Nila dan susu masing-masing capres saling berperang. Sampai terkena susu-susu partai disebelahnya.
Mungkin peribahasa ini perlu direvisi. Atau dibuat versi beta-nya. Mental kita biarkan saja begini. Ngudud dululah biar kalem. Serius amat bacanya.

3 komentar:

  1. Tau dosa mencemarkan nama ulama?

    BalasHapus
  2. Ngomong apa aja bebas mas... gak masalah... tapi kalau sampai mencarkan nama baik orang (apa lagi muslim), treesome atau apalah itu...(padahal anda tidak tahu) ... dua kesalahan sudah anda lakukan... 1. Menuduh orang berzina 2. Menjelekkan ulama

    Hati2... saya cuma mengingatkan... kalo dua hal diatas itu dosa amat besar...

    BalasHapus
  3. Dibaca dan diresapi dulu baik-baik tulisannya. Biar paham tujuan tulisan ini wahai mas/mbak anon :)

    BalasHapus

Budayakan Komen yaaa :D