Selasa, 11 Agustus 2015

Berkaca Pada Fans Liverpool FC



Sampeyan tau Liverpool? Klub bola asal Inggris yang sedang miris. Susah payah merangkak ke peringkat atas klasemen Liga Inggris. Mencoba mempertahankan sebutan "the big four" yang sebenarnya udah ndak pantes lagi disematkan terhadapnya. Semenjak Om Roman dan Syeikh Mansyur menyerang, semua berubah. Ditinggal idola dan jantung harapannya, wes biyasa. Ndak usah jauh-jauh tarik tahun ke belakang, mulai dari Torres saja. Babak belur klub merah ini. Kehilangan tajinya. Lalu diberi secercah harapan oleh om Suarez sampai ke peringkat 2 klasemen, lalu ditinggal pergi ke Barcelona. Cerah pula ia disana. Makin teriris dan tersayat hati ini. Sayatan apa yang paling sakit kecuali melihat mantan bahagia di tempat barunya? Lalu sekarang? Nabi Gerrard yang pergi. Kopites --sebutan untuk Fans Liverpool FC-- sudah sering ditinggalkan. Sudah terlatih patah hati. 
Urusan PHP? Beberapa tahun belakangan. udah jadi santapan tetap untuk para fans. Selalu diiming-imingi pembelian pemain yang berkelas, namun yang didapat hanya pemain malas. Slogan "lihat saja musim depan!" udah jadi ritual khusus tiap akhir musim. Fans klub lain mungkin sudah tidak membencinya lagi, tapi lebih parah dari membenci, yaitu sudah turut berduka cita atas kemirisan ini. Musim 2013/2014 fans Liverpool dibuat terbuai dengan kebangkitan klubnya, yang sudah sangat diprediksi menjadi juara. Fans begitu bahagia, walaupun 75% kebahagiaan itu dikarenakan terpuruknya si musuh abadi, Manchester United.  Tapi licinnya Anfield melahirkan sebuah bibit PHP yang begitu cepat pertumbuhan embrionya. Gagal juara. Ndak bisa menyalahkan, wong yang kepleset itu Sang Nabi Gerrard sendiri. Menangislah fans.
Mungkin Liverpool punya sejarah yang luar biasa. Tapi itu terlalu klise untuk beberapa fans yang tidak hidup di zaman itu. Mungkin Liverpool begitu luar biasa saat mengalahkan AC Milan di Istanbul pada Final Liga Champion 2005. The Magic of Istanbul, mereka bilang. Menangis haru kami melihat kemenangan ini. Tapi 2 tahun kemudian mereka dikalahkan AC Milan di Athena. Liverpool juga belum pernah menjuarai Liga Inggris semenjak liga terhebat ini berubah nama. banyak pemain besar, tapi semuanya pergi. Tapi lihatlah keteguhan fans Liverpool. Dengan bermodal pelajaran sejarah, dengan modal Juara Liga Champion sedasawarsa yang lalu, dengan modal optimisme, dengan modal lirik lagu "You'll Never Walk Alone, dengan modal slogan "lihat saja musim depan!", dengan modal "juara ndak juara yang penting MU kalah!" dan beberapa modal comforting-cliche lainnya, fans tetap mencintai klub ini. Karena cinta ndak butuh alasan banyak. Fans hanya tau bahwa ada cinta untuk klub ini. Kami hanya tau bagaimana kami terus mendukung dan mendoakan klub ini baik langsung maupun lewat layar kaca setelah kemirisan-kemirisan yang klub ini beri kepada fans. Saya begitu setia mencintai klub ini walaupun bully dari fans lain yang bertubi-tubi menyerang. Karena saya percaya. Karena saya berharap. Karena saya optimis, bahwa saya bahagia menjadi fans-mu, Liverpool FC.
Maka dari itu, wahai para perempuan, menikahlah dengan fans Liverpool. Kami setia dalam mencinta.


HEHEHEHEHEHE.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Budayakan Komen yaaa :D